Pemimpin yang Bisa Dipercaya

If leaders are careless about basic things – telling the truth, respecting moral codes, proper professional conduct – who can believe them on their issues?”

-James L. Hayes-

36035724_10214777982416509_5891044892007727104_nBiasanya pada bulan-bulan sebelum dilaksanakannya pemilihan umum, para calon pemimpin akan memperkenalkan diri dengan memajang baliho, poster maupun selebaran agar rakyat lebih mengenal mereka secara pribadi. Mereka gencar menyampaikan visi-misi yang pro-rakyat untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Tentu Anda pernah memperhatikannya seperti itu bukan? Tapi bagaimana kalau diantara para calon pemimpin tersebut ada yang sudah Anda kenal bahwa dia adalah orang yang Anda kurang percayai? Apakah Anda mau dipimpin orang yang seperti itu? Mungkin Anda tidak mau memilihnya bukan? Atau sebaliknya, diantara mereka ada seseorang yang sudah Anda kenal sebagai orang yang baik, yang jujur, yang konsisten dengan janjinya dan juga cerdas. Kemungkinan besar orang inilah yang akan Anda pilih dan bahkan merekomendasikannya kepada keluarga atau teman Anda.

Kenyataannya banyak orang yang gagal menjadi pemimpin, karena mereka tidak bisa dipercaya. Dan banyak diantara mereka yang tidak menyadarinya.

Kalau Anda ingin menjadi seorang pemimpin, maka syarat utamanya adalah, “Anda harus bisa dipercaya.”

John Maxwell, penulis buku-buku tentang kepemimpinan dan juga pembicara yang terkenal di seluruh dunia, mengatakan bahwa, “Kepercayaan adalah landasan dari kepemimpinan.” Kenapa? Peter Drucker, seorang ahli dan konsultan manajemen ternama menjawab, “Pemimpin adalah seseorang yang punya pengikut. Kalau tidak ada orang yang percaya dengan dia, maka tidak akan ada pengikutnya. Kalau tidak ada pengikut, berarti dia bukan pemimpin.” Stephen P. Robbins, seorang peneliti terkenal di bidang manajemen dan organisasi, juga ikut menegaskan, “Mustahil seseorang dapat memimpin orang yang tidak memercayainya.”

Anda tidak akan pernah ditunjuk menjadi pemimpin jika orang-orang tidak percaya kepada Anda!

Banyak calon pemimpin yang meyakini kalau visi-misinya sudah cukup baik, maka orang-orang akan percaya dan mengikutinya. Namun kenyataannya, orang lebih mementingkan kepercayaan (trust) daripada visi-misi. Jika para pengikut tidak percaya dengan pemimpinnya meskipun suka dengan visi-misinya, maka pengikut tersebut akan mencari pemimpin lain yang mereka percayai. Memang kelihatannya aneh, tapi itu adalah fakta yang menarik. Para pengikut, meskipun tidak suka dengan visi-misi pemimpinnya, tapi karena mereka sudah percaya kepada pemimpin tersebut, maka mereka akan terus mengikutinya.

Kondisi seperti ini banyak kita lihat di belahan dunia ini. Sebagai contoh adalah rakyat Amerika Serikat yang masih tetap memilih Barack Obama menjadi Presiden AS untuk kedua kalinya. Meskipun mereka tidak sepenuhnya setuju dengan kebijakan-kebijakan yang diambil Barack Obama, tapi karena mereka sudah terlanjur percaya dengan sosok Barack Obama yang jujur dan sangat perhatian terhadap rakyat kecil, maka mereka tetap mau dipimpin oleh Obama.

Kalau pengikut tetap memercayai pemimpinnya meskipun dia tidak begitu pintar dan visi-misinya juga tidak terlihat begitu baik, pasti ada hal yang istimewa dengan pemimpin tersebut. Kemungkinan besar yang mereka lihat adalah kejujuran dan ketulusan hati dari pemimpin tersebut. Dia diikuti bukan hanya karena kata-kata yang diucapkannya, tetapi juga karena tindakannya sesuai dengan apa yang diucapkannya.

Orang yang bisa dipercaya sebenarnya bukan hanya sebatas kejujurannya saja akan tetapi masih ada hal lain seperti kedisiplinan, tanggung jawab, pola pikir, intelektual, kemampuan memimpin dan lain-lain. Faktor-faktor ini akan kita bahas di bab-bab selanjutnya.

Ada satu survei yang menarik yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia pada bulan Oktober 2013 terhadap 1,200 warga Indonesia dari berbagai latar belakang yang memiliki hak memilih. Hasilnya survei menunjukkan bahwa 51% memilih calon presiden yang jujur, 24% memilih yang perhatian terhadap rakyat, 12% memilih yang mampu memimpin, 7% memilih yang tegas, 3% memilih yang berwibawa danya hanya 1% memilih yang pintar. Jadi bagi pemilih, kejujuran dianggap kriteria yang paling penting bagi seorang pemimpin.

Andrinof Chaniago, pengamat politik dari UI, ketika menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, juga mengatakan, “Kriteria utama yang diinginkan masyarakat dalam memilih pemimpin adalah yang pertama karakter, orangnya jujur dan bisa dipercaya.”

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pada saat memberikan kuliah umum tentang kepemimpinan di Balai Sidang Universitas Indonesia, menyampaikan, “Menjadi pemimpin itu harus bisa dipercaya.”

Jadi kalau Anda ingin menjadi pemimpin, Anda harus bisa dipercaya! Masalahnya adalah, menjadi orang yang dipercaya bukanlah hal yang mudah. Apalagi kalau Anda sudah pernah di posisi orang yang pernah melakukan kesalahan dan dianggap sudah tidak bisa dipercaya lagi. Karena image ‘tidak bisa dipercaya’ sudah melekat di pikiran mereka.

Sebenarnya kita sudah pada tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Tapi tidak ada salahnya kalau kita bahas secara sepintas dalam bab ini. Tapi sebelum itu, kita perlu sadari bahwa kepercayaan orang terhadap kita tidak bisa didapatkan dalam sekejap mata! Memang ada juga yang instan, tapi pada umumnya kepercayaan harus dibangun melalui proses kebiasaan yang konsisten. Kenapa? Karena kepercayaan adalah urusan hubungan (relationship) antara manusia. Sama seperti orang yang berpacaran, ada masa perkenalan, pendekatan dan seterusnya. Jadi kita tidak usah terlalu berharap agar orang yang baru mengenal kita, langsung memercayai kita.

Lantas bagaimana caranya agar kita menjadi orang yang bisa dipercaya?  Tentu kita harus transparan atau terbuka. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Kita juga harus jujur, tulus, bertanggung jawab, memegang janji dan juga konsisten. Kalau semua itu kita perlihatkan dalam kehidupan kita sehari-hari, niscaya kita menjadi orang yang bisa dipercaya.

Orang yang bisa dipercaya bisa kita kenali dengan ciri-ciri berikut ini:

  • Omongannya bisa dipercaya
  • Tindakannya bisa dipercaya
  • Berkarakter dan kompeten

“Kepercayaan ibarat sebuah berlian berharga yang berkilau, kejarlah dan buat hidupmu bersinar”

Ronny Siagian

Muncul Menjadi Pemimpin

10974210_10205135856209380_1577415926228263627_oAda suatu kisah menarik dalam Kitab Suci, yaitu ketika Firaun Raja Mesir bermimpi. Dalam mimpinya Firaun melihat dari sungai Nil keluar tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput yang di tepi sungai itu. Kemudian tampaklah juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lembu yang tadi, di tepi sungai itu. Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lembu-lembu itu masuk ke dalam perutnya, tapi tidaklah kelihatan sedikit pun tandanya: bangunnya tetap sama buruknya seperti semula.

Setelah itu Firaun tertidur dan bermimpi kedua kalinya: Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bilur gandum yang bernas dan baik. Kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bilur gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi.

Lalu Firaun terbangun dan sangat gelisah sehingga ia memanggil seluruh ahli dan semua orang berilmu di Mesir. Firaun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi seorang pun tidak ada yang dapat mengartikannya kepadanya.

Kemudian seseorang memanggil Yusuf yang pada saat itu sebagai penghuni penjara akibat fitnahan dari istri Potifar, pegawai istana. Yusuf berkata kepada Firaun: “Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama. Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan. Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir. Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini. Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu. Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan di bawah kuasa tuanku Firaun menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.”

Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” Kemudian kata firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.” Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.”

Seseorang yang memiliki visi yang jelas akan muncul menjadi seorang pemimpin.

Ronny Siagian

Pemimpin Harus Memiliki Visi yang Jelas

10363826_10204413819198906_2238337966053899185_n“The best way to succeed is to have a specific Intent, a clear Vision, a plan of Action, and the ability to maintain Clarity. Those are the Four Pillars of Success. It never fails!” – Steve Maraboli –

“Having a Vision is not enough. It must be combined with imagination, determination, faith, hope and passion. It is not enough to just stare up at the stars…we must become the stars that the stars shine down on.” – Victoria June –

Senang sekali mengetahui kalau motif Anda ingin menjadi seorang pemimpin adalah karena Anda ingin menolong orang lain untuk menemukan kekuatan potensi mereka sehingga mereka bisa meraih kebahagiaan dari hasil yang mereka peroleh.

Wah… itu suatu keinginan yang mulia dan luar biasa. Semoga tercapai ya. Saya sudah bisa membayangkan kebahagiaan orang-orang yang berhasil mengembangkan potensinya dan yang sudah banyak memperoleh pencapaian-pencapaian dalam hidupnya ketika mereka mengikuti seorang pemimpin yang sejati. Berbahagialah pemimpin yang sejati tersebut. Sama seperti Anda, saya juga tetap belajar menjadi seorang pemimpin yang bisa membahagiakan banyak orang.

Namun kenyataannya banyak orang, calon pemimpin atau yang sudah jadi pemimpin yang tidak berhasil mewujudkan keinginan baik mereka tersebut. Kenapa? Tentu saja banyak penyebabnya, akan tetapi penyebab yang mendasar adalah ketika seseorang tidak mendefinisikan terlebih dahulu keinginannya dengan jelas, maka kemungkinan besar dia sulit mewujudkannya.

Oleh karena itu, Anda harus terlebih dahulu menerjemahkan motif baik Anda ke dalam gambar atau bentuk yang yang jelas, yang bisa memperlihatkan ‘menjadi seperti apa Anda nantinya di masa yang akan datang’. Gambar atau bentuk itulah yang disebut sebagai visi. Jadi motif harus diterjemahkan ke dalam visi yang jelas.

Visi ibarat sebuah cetak biru (blue print) atau maket ketika kita ingin membangun rumah atau bangunan lain dimana blue print tersebut memperlihatkan seperti apa bangunan itu nantinya. Mungkin Anda akan katakan, “Saya bisa bangun rumah tanpa blue print!”. Ya, memang Anda tidak punya blue print secara fisik, tetapi sudah ada di benak Anda bukan. Kita tidak akan pernah bisa membuat rumah jika kita tidak mengetahui rumah seperti apa yang akan kita bangun.

Jadi kalau Anda ingin menjadi seorang pemimpin yang sejati, maka visi yang jelas akan menjadi modal Anda untuk membangun, menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk mengoptimalkan potensi terbaik mereka. Pemimpin seperti apa Anda nanti di masa yang akan datang.

(Dikutip dari “Becoming A Leader” by Ronny Siagian)

Ronny Siagian

KOK PENGEN JADI PEMIMPIN?

10245366_10203520908436695_7721208919207126701_nApa sih sebenaranya motif Anda sehingga ingin menjadi seorang pemimpin?”. Pertanyaan ini saya ajukan ketika membuka diskusi tentang kepemimpinan pada suatu acara leadership gathering yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan, dimana pesertanya adalah para supervisor muda dari berbagai bagian.

Kenapa pertanyaan ini saya lontarkan di awal gathering tersebut? Karena jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan akan menjadi pemimpin seperti apa mereka nantinya.

Mungkin karena suasana gathering cukup santai, maka Sugiharta, salah seorang peserta menjawab, “Biar kaya Pak”. Mendengar jawaban yang terus terang tersebut, peserta lain spontan tertawa. Saya juga ikut tertawa, tetapi bukan hanya karena alasan tersebut, tetapi juga karena saya berhasil mendapatkan jawaban yang saya harapkan.

Terlepas dari tujuan saya untuk menghangatkan diskusi, memang kenyataannya banyak orang yang ingin menjadi pemimpin karena ingin mendapatkan materi, harta kekayaan dan fasilitas-fasilitas yang mereka bisa nikmati.

Kembali ke acara diskusi tadi. Pertanyaan yang sama kemudian saya tanyakan kepada peserta gathering yang lainnya. Dan Pawel, peserta yang terlihat lebih berwibawa menjawab, “ingin memiliki pengaruh yang kuat kepada orang lain”. Dikta, satu-satunya peserta wanita, memiliki jawaban yang ekstrim, “ingin menjadi pemimpin yang berkuasa yang memerintah banyak orang”. “Wow…betulkah dia ingin seperti itu?”, pikir saya. Sementara Pujo, “ingin berprestasi dan dihormati”. Peserta lain memiliki motif “ingin membuat perubahan”, “ingin memperbaiki hidup”. Kebanyakan peserta menjawab “ingin membantu orang lain supaya mereka lebih baik”.

“Ingin membantu orang lain supaya mereka lebih baik”. Ya..ya..ya.. inilah motif yang baik menjadi seorang pemimpin. Saya jadi teringat pada bulan-bulan sebelum diselenggarakannya PEMILU (pemilihan umum) di Indonesia. Banyak sekali orang yang mendaftarkan diri menjadi caleg (calon legislatif), atau calon anggota DPR (Dewan Pertimbangan Rakyat). Mereka berasal dari berbagai profesi seperti pengacara, jaksa, hakim, pedagang, pengusaha, bintang film, penyanyi, pelawak, dokter, dosen, guru dan profesi lainnya. Kita juga sering bingung mau memilih siapa yang menjadi wakil kita di DPR. Ada yang masih berasal dari keluarga sendiri, bos kita sendiri, teman sekampung, teman gereja, teman pengajian, bapak atau ibunya teman kita. Untunglah PEMILU kita menerapkan sistem LUBER (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia) dan JURDIL (Jujur dan Adil), jadi tidak ada yang tahu siapa yang kita pilih.

Para caleg menyampaikan visi misi mereka pada saat menggelar kampanye, supaya masyarakat mengetahui bahwa mereka membela kepentingan rakyat. Seolah-olah berkata, “Saya ini akan mewakili kalian. Saya akan memperjuangkan kepentingan kalian. Percayalah. Pilihlah saya”.

Kemudian rakyatpun memilih mereka sebagai wakil rakyat di DPR. Namun setelah mereka terpilih, mereka lupa dengan janjinya pada saat kampanye, yaitu ingin memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum. Memperkaya diri dengan harta dan fasilitas yang tidak semestinya. Sampai-sampai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sibuk mengurusi mereka. Mengecewakan bukan?.

Sekarang saya mengajak Anda untuk menyelidiki dan merenungkan apakah sebenarnya alasan Anda sehingga ingin menjadi seorang pemimpin. Apakah Anda ingin menjadi pemimpin negara, pemimpin partai, pemimpin adat, pemimpin perusahaan, pemimpin kelompok, pemimpin komunitas, atau dimana saja. Apa yang ingin Anda raih? Apa yang ingin Anda perjuangkan? Apa yang mendorong Anda sehingga memiliki hasrat menjadi seorang pemimpin? Pengen Berkuasa? Pengen Dihormati? Pengen Dipuji? Pengen Kaya? atau Pengen Menolong Orang?. Coba Anda renungkan.

Ronny Siagian

PEMBUKA & PENUTUP PRESENTASI

3 poinSeorang teman bertanya kepada saya, “Pak, mana yang paling ditangkap pendengar, pembicaraan di awal atau di akhir?”. Saya katakan, “dua-duanya!”
Pembuka yang kuat
Kata pembuka adalah kesempatan bagi Anda untuk meraih perhatian pendengar. Jika cara membuka Anda buruk, pesan Anda yang selanjutnya akan gagal. Jika pendengar Anda tidak terpikat dengan kata pembuka mereka mungkin tidak akan lagi memperhatikan Anda.
Penutup yang kuat
Penutup Anda penting sebagaimana pembuka Anda. Dengan penutup, pendengar akan ingat setelah Anda menyelesaikan presentasi Anda. Itu kesempatan terkahir Anda untuk meninggalkan mereka dengan kesan yang sangat menyenangkan.
Penutup yang baik, bagi pendengar akan meninggalkan perasaan yang positip mengenai materi Anda, kepribadian dan poin-poin yang telah Anda sampaikan. Penutup yang lemah dapat menanggalkan hampir semua pekerjaan baik Anda. Pendengar mungkin memfokuskan pada kesimpulan Anda yang lemah dan melupakan kekayaan materi yang telah disampaikan sebelumnya.
Ronny Siagian

 

PRESENTASI TIGA-POIN

ronny siagianDalam acara Debat Caleg, sebelum sesi tanya jawab, para Caleg terlebih dahulu diberikan kesempatan beberapa menit untuk menyampaikan visi-misinya. Tapi tidak jarang kita melihat peserta sudah kehabisan waktu padahal materi yang mau disampaikan baru separuh. Akibatnya audience tidak dapat menangkap visi-misi mereka dengan jelas.
Nah..Presentasi Tiga-Poin adalah salah satu kunci untuk berkomunikasi secara efektif. Presentasi ini akan membuat pendengar bisa mengerti dengan jelas apa yang Anda sampaikan.
Banyak orang menganggap kalau presentasi mereka terlalu canggih dan materinya terlalu detail untuk diringkas dalam tiga poin. Mereka salah. Setiap presentasi lisan dapat disampaikan dalam tiga poin yang jelas dan sederhana.
Tentu saja, pilihan menggunakan hanya tiga poin tidak perlu diterapkan secara kaku. Beberapa presentasi mungkin lebih baik dibuat dua atau empat poin.
Sebelum menyajikan Presentasi Tiga-Poin yang jelas, Anda perlu menata semua materi Anda. Seperti dalam permainan puzzle Anda perlu mengosongkan semua potongan sebelum menyusunnya kembali.
Jika Anda telah menentukan tujuan dan melakukan persiapan awal, Anda perlu mendaftarkan semua poin dan contoh-contoh yang mungkin ingin Anda gunakan.
Jika daftar panjang telah Anda susun, lakukan analisa terhadap masing-masing poin. Perlu ditentukan tingkat relevansi setiap poin kedalam komunikasi Anda. Ada yang memang diperlukan, ada juga yang mungkin hanya menarik dan ada yang harus dibuang. Mulailah dengan memperhatikan poin yang mendesak yang tanpa poin itu pesan Anda akan mendapatkan masalah. Fokuskan pada penggabungan kerangka materi dengan cara berkesinambungan. Selanjutnya Anda dapat membubuhi presentasi Anda dengan materi yang menarik tetapi masih tetap relevan.
Langkah selanjutnya adalah mengelompokkan poin utama ke dalam kelompok kategori atau yang satu tema. Ini dimaksudkan untuk mengurangi daftar yang campur aduk kedalam tema-tema umum.
Jika Anda telah memilah poin-poin tersebut, berarti Anda dapat mempersiapkan Presentasi Tiga-Poin. Selamat mencoba.
Ronny Siagian

KENALI JURUS MENJATUHKAN LAWAN

Training di ISTWSebelum Anda menentukan sikap atau mengambil tindakan yang tepat dalam menghadapi orang yang berniat menjatuhkan Anda, coba selidiki apa yang melatarbelakangi niat mereka tersebut? Cari tahu terlebih dahulu, Anda jangan gegabah mengambil tindakan atau langsung menuduh orang lain ingin menjatuhkan karier Anda tanpa bukti-bukti yang jelas.

Berdasarkan pengalaman, umumnya orang yang suka menjatuhkan rekan kerjanya adalah mereka yang zona nyamannya tidak mau diganggu. Mereka takut dilengserkan dari posisinya. Atau mereka melakukan hal itu karena faktor cemburu dengan kemajuan rekan lain yang dianggapkan menjadi “saingannya”. Akibat kecemburuan dan luapan ambisi untuk mendapatkan jabatan yang diincarnya secara instan itu, mereka berusaha melakukan segala macam cara untuk menjatuhkan rekan kerjanya supaya mereka terlihat lebih baik.

Kalau kita belajar Judo, kita diajari jurus-jurus menjatuhkan lawan supaya kedudukan lawan menjadi lemah dan memudahkan kita membuat “kuncian atau serangan” terhadap lawan.

Banyak jurus yang bisa digunakan untuk menjatuhkan lawan, seperti tolakan, tarikan, sapuan kaki atau menghempas musuh ke bawah.

Dengan mempelajari jurus-jurus menjatuhkan tersebut, kita juga sekaligus bisa mengantisipasi dan mengalahkan lawan yang menggunakan jurus-jurus tersebut untuk menyerang kita. 

Begitu juga ketika Anda menghadapi rekan yang berusaha menjatuhkan Anda di kantor. Maka, hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah cara-cara yang dilakukan. Kenali ciri-ciri rekan kerja yang berusaha mencari-cari kesalahan rekan kerjanya, melaporkannya kepada atasan atau membeberkannya dalam forum tertentu.

Perlawanan yang Anda lakukan untuk “menghindari serangan” rekan kerja yang berusaha menjatuhkan Anda sama seperti pertandingan bela diri. Di sini, Anda juga harus mempelajari  jurus-jurus yang digunakan oleh mereka yang mau menjatuhkan Anda. Sehingga Anda bisa memprediksi, mencari jurus ampuh untuk mengelak bahkan memberi ‘pelajaran’ kepada mereka.

Apa saja jurus melawan serangan rekan kerja yang ingin menjatuhkan Anda? Di bawah ini ada beberap jurus yang dapat Anda lakukan:

Tidak harus melawan, tapi sabar tidak cukup!

Bagaimana pun juga Anda tidak boleh lengah dan lemah. Meskipun orang yang mau menjatuhkan Anda tidak memiliki power, atau kelebihan yang berarti, tapi serangan intimidasi yang selalu dilancarkannya bisa saja melemahkan Anda. Kalau Anda berubah menjadi lemah, sementara atasan Anda memercayai propaganda orang yang berusaha menjatuhkan Anda tersebut, maka Anda kalah telak.

Apakah Anda harus melakukan serangan balik? Dengan menyerang mereka yang berusaha menjatuhkan Anda? Sama seperti ilmu bela diri, selalu diajarkan teknik-teknik mengelak, menangkis dan mematahkan serangan lawan. Perguruan yang benar tidak pernah mengajarkan teknik membunuh, tapi  menggunakan teknik melumpuhkan lawan untuk memberikan ‘pelajaran’ supaya musuh jera atau kapok.

Untuk melancarkan perlawanan biasanya akan membuat situasi menjadi lebih panas. Kondisi seperti itu, akan memperlihatkan ketidak dewasaan Anda. Siapa pun tidak akan menyukai tindakan yang kekanak-kanakan dalam perjalanan karier.

Walaupun ada rekan kerja Anda yang berusaha keras memprovokasi Anda untuk melancarkan tindakan pembalasan. Jangan dengarkan mereka! Biasanya sahabat kita akan memberi dukungan dengan mengatakan, “Sudah sabar-sabar aja ya, suatu saat mereka akan lelah sendiri dan menerima bagiannya. Tuhan maha tahu, Dia akan bertindak dengan adil. Atasan kita juga tidak bodoh, dia bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak baik”.

Betul sekali! Ingat, jika lawan Anda panas, Anda jangan terpancing dalam jebakan emosi. Dan, jangan gegabah dalam memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Berpikirlah dengan tenang dan profesional.

Dalam keadaan diserang harus sabar? Ya! Tapi pertanyaannya adalah “Apakah Anda masih tetap bisa diandalkan? Apakah Anda memperlihatkan performa yang baik?” Kalau tidak, sabar saja tidak cukup!  Bisa-bisa Anda malah jatuh.

Karena itu, Anda “tetaplah bekerja” secara profesional, jujur, berintegritas, bekerja dengan cerdas, kerja keras dan bekerja ceria dan antusias. Jangan mudah terpancing oleh provokasi rekan kerja Anda.

Ronny Siagian