CHANGE OR DIE

Orang tua saya yang datang dari kampung berkomentar “tahun lalu tempat ini belum seramai ini, cepat sekali berubah ya” dan ketika melihat anak-anak saya mereka juga bilang “sudah pada gede-gede ya, rasanya kemarin masih kecil-kecil”. Sebaliknya ketika saya pulang kampung saya berkomentar kecewa “kok Danau Toba yang dulunya biru dan jernih, sekarang menjadi keruh dan kotor”.  Kita yang tinggal di Jabodetabek juga tidak kaget lagi kalau melewati  jalan raya yang tadinya mulus sekarang penuh dengan lobang-lobang dan batu-batuan. Anak-anak muda yang tidak memiliki handphone dianggap kampungan dengan sindiran “hari gene nggak punya handphone”.

Zaman orang tua saya dulu, seorang tamatan SMA akan diterima bekerja dimana saja dia mau, tapi apa yang terjadi saat ini, para sarjana pun sudah sulit mencari pekerjaan. Murid-murid SMP sekarangpun sudah diberikan PR yang harus dicari lewat internet, yang bikin orang tua kewalahan.

Para karyawan yang dibayarkan gajinya dengan cara tunai, dianggap karyawan yang kurang bonafide dibandingkan dengan cara transfer ke rekening bank. Para eksekutif mulai terbiasa dengan phonebanking , internet banking ataupun credit card, sehingga mereka jarang melihat uang tunai, kecuali para koruptor yang masih suka menyimpan uang tunai dalam kantong plastik atau dibawah bantal.

Kita bisa menyebut bahwa zaman sekarang adalah zaman cepat berubah atau zaman turbulence. Zaman turbulence ini akan menimbulkan iklim persaingan yang sangat ketat, oleh karena itu pilihan yang ada adalah berubah atau mati ditelan zaman. Change or Die !

Begitu juga apabila pelaku bisnis tidak bisa mengikuti zaman turbulence ini, sudah bisa dipastikan bahwa cepat atau lambat mereka akan mati juga. Oleh karena itu perusahan yang maju selalu berusaha melakukan perubahan-perubahan di berbagai  bidang seperti perubahan mesin dan sistem produksi, sistem keuangan dan akuntansi, sistem layanan purna jual dan banyak perubahan lainnya.

Ada kebiasaan karyawan yang kurang respek dengan perubahan, mereka mengatakan “dari dulu tidak ada masalah kenapa mesti dirubah”. Memang biasanya suatu perubahan dilakukan apabila sudah terjadi masalah, setelah kita mengalami kerugian. Lain halnya apabila kita sudah bisa mengantisipasi potensi masalah dengan demikian kita sudah siap untuk menghadapi masalah yang tidak akan merugikan kita. Hal ini bukan berlaku hanya untuk bisnis saja akan tetapi untuk karier kita juga sebagai karyawan ataupun sebagai orang tua. Bagi Anda yang sudah membaca buku Our Iceberg is Melting pasti sudah memahami pentingnya melakukan perubahan. Selamat untuk berubah. Change or Die.

Ronny Siagian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s