THE LOST MOTIVATION

Pada suatu sore ketika saya mengantarkan anak saya les Bahasa Inggris di salah satu perumahan di Harapan Indah Bekasi. Waktu itu, di depan gedung les tersebut masih ada banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan oleh pihak developer. Sambil menunggu lahan tersebut didrikan bangunan, banyak warga yang saya tidak tahu berasal darimana, mendirikan gubuk-gubuk disana sebagai tempat tinggal mereka. Mereka juga memanfaatkan tanah kosong lainnya untuk ditanami sayuran seperti sawi, bayam, kangkung bahkan jagung. Kelihatannya tanaman mereka cukup subur dan terlihat segar sehingga banyak warga Harapan Indah yang datang membeli sayuran langsung kesana.

Saya bukan mau membahas mengenai lahan kosong ataupun sayuran, tapi ada pemandangan yang menarik yang saya perhatikan. Ternyata mereka yang memanfaatkan lahan tersebut membawa serta juga anak-anak mereka tinggal di gubuk tersebut. Sambil menunggu waktu untuk memulai les, ada beberapa anak yang hobby main bolanya tinggi, menyempatkan diri untuk bermain-main bersama anak petani nomaden tersebut. Kemudian anak-anak yang mau les diingatkan temannya untuk segera masuk ke ruangan les, tinggallah dua tiga orang anak petani nomaden yang bermain bola disana. Sekarang keriuhan mereka tidak lagi seperti ketika ada beberapa anak les yang bergabung.

Sementara itu, ada seorang ibu sedang duduk termenung didepan pintu gubuknya, kelihatannya ada sesuatu yang dia khayalkan.  Saya mencoba menarik garis dari sorotan matanya ke arah mana dia memandang. Saya menentukan bahwa titik pandangan kosongnya adalah kepada dua tiga orang anak yang bermain bola tadi. Saya tertarik melihat gerakan selanjutnya dari ibu itu sehingga saya terus memperhatikannya. Kemudian tokoh dalam pemandangan saya bertambah ketika seorang anak yang bermain bola tadi menghampiri ibu itu. Kelihatannya ada pengaduan dari si anak dan si ibu juga terlihat penuh kasih menanggapinya.

Saya pikir si anak mengadu kepada ibunya bahwa dia kehilangan teman bermain bola, karena anak-anak lain sudah pada pergi termasuk anak yang masuk les tadi. Si ibu bilang, “ya sudah nak besok-besok mereka kan kesini lagi, besok kamu bisa main lagi kan”. Si anak merengek-rengek, “aku mau main sama mereka sekarang”. “Kan mereka sedang belajar didalam, kita tunggu mereka keluar dulu ya”,  kata si ibu menenangkan anaknya. “Ma, boleh nggak aku ikut belajar didalam ?” pinta si anak memelas.

Pada saat itu hati si ibu terenyuh, karena permintaan anaknya tidak bisa dipenuhinya. Dia adalah istri seorang petani nomaden, yang tidak bisa menyekolahkan anaknya. Sebelumnya dia berpikir bahwa dia tidak mungkin menyekolahkan anaknya, apa boleh buat, anak jadi petani nomaden aja.  Tapi sekarang dia berubah pikiran, dia tidak tega melihat anaknya seperti itu.

Kalau sebelumnya si ibu hanya mengandalkan suaminya yang bekerja sebagai petani nomaden, dan dia hanya menunggu di gubuk yang disi dengan saling cari kutu dengan ibu lainnya, tapi sekarang dia berubah pikiran, mind setnya dirubah. “Saya harus berbuat sesuatu, saya harus berubah” demikian tekad si Ibu tersebut.

Malam itu juga dia minta ijin kepada suaminya supaya besok ikut temannya menjadi tukang kebun di taman Harapan Indah, karena sebelumnya dia pernah ditawari oleh temannya tapi suaminya tidak begitu mendukung. “Kalau tidak diijinkan saya akan mencari kerjaan sebagai tukang cuci kalau juga tidak diijinkan saya akan belajar membuat kue-kuean untuk dijual di pinggir jalan”. Tetapi dengan mendengar keinginan si Ibu untuk menyekolahkan anaknya, si suami pun mengijinkannya menjadi tukan kebun taman di Harapan Indah.

Pendek cerita, kemudian dia mampu menyekolahkan anaknya bahkan mereka bisa mengontrak warung di pinggir jalan. Dia juga bekerja sebagai tukang kebun dan kadang-kadang dapat uang tambahan dengan membersihkan pekarangan rumah gedongan di sekitar taman. Di sore hari dia juga bekerja sebagai tukang cuci di beberapa keluarga dan kemudian di malam hari dia menyiapkan bahan-bahan untuk warung yang tunggui oleh keponakannya. Setiap pagi dia sudah menyiapkan anaknya untuk berangkat sekolah, memakaikan dasi sekolah anaknya, menempatkan rangsel warna kuning di pundah anaknya dan memberi ciuman seperti layaknya anak-anak gedongan yang ikut les tadi, sambil berpesan “belajar yang baik ya nak, biar nanti jadi orang gedongan”. Si bocah tadi juga dengan riangnya ikut bermain bola bersama teman-temanya sebelum sama-sama masuk kedalam gedung tempat dia mengikuti les Bahasa Inggris.

Tiba-tiba suara guyuran hujan dan tiupan angin kencang menghantam mobil saya dan membuat saya terbangun dari lamunan yang kelihatannya cukup lama. Aku mencoba mencari anak tadi, tapi tidak saya temukan lagi dalam pandanganku, mungkin dia sudah masuk kedalam gubuk kecil itu bersama ibunya. Saya pulang ke rumah dan tergerak untuk menceritakan lamunan saya kepada si ibu tersebut. “Saya akan cari kesempatan” pikirku. Selang beberapa hari kemudian, sepulang dari kantor, saya tidak melihat lagi gubuk-gubuk tempat tinggal para petani nomaden tersebut, justru yang saya lihat adalah keramaian orang menyaksikan beberapa unit buldozer dan truk pengangkut tanah yang bersiliweran disana. Saya menyesal telah menghilangkan kesempatan petani nomaden tersebut mendapatkan hidup yang lebih baik. Bu dan adek kecilku semoga kalian mendapat motivasi dari orang lain.

Ronny Siagian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s