HAMBURGER DAN TEMPE

Pada suatu ketika, terjadi satu perbincangan yang kedengarannya tidak bersahabat antara Tempe dan Hamburger di salah satu Meja Makan keluarga. Si hamburger dengan sikap seperti mengejek si Tempe yang sedari tadi kelihatan pucat, “Eh tempe, ngapain lo disini, ini bukan tempat lo, sono lo ke warteg sono !”. Dengan sedikit malu si Tempe hendak beranjak dari meja, tapi buru-buru terdengar obrolan antara tuan rumah dan nyonya “ Ma kok beli Tempe cuman tiga potong aja ?” Si nyonya menjawab “Dapat tiga potong aja sudah syukur, sekarang susah cari Tempe”. Si Tempe mendengar pembicaraan tuan rumah dan nyonya tadi, dan mulai bernafsu untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut tentang dirinya, si Hamburger juga menunggu pembicaraan selanjutnya. “Satu potong Tempe bisa Rp. 5000, malah lebih mahal dari Hamburger”.

“Ha..ha.. siapa dulu dong Tempe” si Tempe terbahak-bahak mengejek si Hamburger. Si Hamburger mulai bingung dan hampir tidak percaya,  penasaran. Lantas si Meja Makan yang sok tahu tapi memang kelihatannya dia banyak tahu, memberi komentar “Emang Lo baru tahu kalau Tempe itu terbuat dari kacang kedele yang diimpor dari Amerika, ongkosnya aja sudah mahal?” “Iya saya tahu, saya juga terbuat dari terigu yang diimpor dari Australia, emang sih dari China juga ada, tapi masak sih Tempe lebih mahal?” ujar si Hamburger nggak bisa terima. Si Meja Makan menambahkan “Katanya produsen Tempe sudah mulai mogok kerja karena harga kedelai melambung, katanya produsen sangat bergantung pada importir kedelai”. “Tapi ngomong-ngomong, anda-anda tahu nggak kalau gua juga diimpor dari Malasya dengan harga yang mahal” kata si Meja dengan gaya pamer. “Tapi lo kan bahannya dari hutan Indonesia yang diolah diluar negeri dan kita impor kembali” kata si Sendok. “Yang penting harga gua mahal, dari pada lo, impor tapi harga murah” jawab si Meja nggak mau kalah. “Ya, emang kami kelompok besi murahan dari China tapi kami ada dimana-mana seperti peniti, jarum pentul, mainan anak-anak, pisau, sepeda, pokoknya segala bentuk besi”. Perbincangan terhenti sejenak ketika mereka mendengar  ada teriakan yang kemudian menghilang. “Biasa, teman kita si Beras dari Thailand sedang ditelam tuan rumah, ntar juga giliran teman kita si Apple dari Washington” kata si Meja Makan dengan santai.

Sementara si Hamburger dan si Tempe masih terus berdebat untuk menentukan siapa diantara mereka yang paling bergengsi, mari kita renungkan, apa potensi dalam diri kita yang bisa kita kembangkan dan berikan untuk kemajuan bangsa ini.

Ronny Siagian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s