MIDDLE AGE

Ketika merekrut karyawan-karyawan baru yang akan bekerja di ISTW, saya selalu melihat tanggal kelahiran mereka. Saya cemburu dengan umur mereka yang rata-rata masih dua puluhan tahun. Rasanya saya ingin kembali ke zaman usia dua puluhan tahun agar saya bisa mengulang kehidupan yang lebih baik. Saya menyesal telah menyia-nyiakan waktu saya untuk hal-hal yang kurang baik. Tapi untunglah saya sadar bahwa yang sudah berlalu tidak mungkin bisa diulang lagi, semuanya harus kita terima dan disyukuri.

Ada beberapa orang bijak bilang “yang penting bukan kapan kamu mulai tapi bagaimana kamu melakukan yang terbaik saat ini”. Dalam hati saya berjanji saya akan melakukan yang terbaik mulai saat ini. Kadang-kadang saya sering diperhadapkan dengan pandangan yang sengaja disuguhkan oleh dunia kepada saya untuk menggapai kesuksesan materi dan jabatan. Meskipun semua itu sangat penting tapi saya belajar untuk menyikapinya dengan berkata dalam hati “aku akan tetap berusaha melakukan yang terbaik dalam hidupku dan kebahagiaan hidupku adalah kesuksesanku”.

Mungkin saat ini kita merasa sudah terlalu tua untuk melakukan sesuatu, seperti semuanya sudah terlambat. Mungkin kita merasa bahwa berkarya dan berkreasi adalah bagian dari anak-anak muda dan karyawan-karyawan baru. Ini hanya contoh saja, Dolly Parton mampu menciptakan album terbarunya bahkan mencapai sukses  pada saat usianya sudah 62 tahun. Katsusuke Yanagisawa di usianya yang ke 71 menaklukkan puncak gunung Everest, sementara di base camp Yuichiro Miura (75 tahun) dan Min Bahadur Sherchan (77 tahun) sudah bersiap-siap untuk mendaki gunung tersebut. Pasti Anda juga mengenal beberapa orang yang mengawali kesuksesan di usianya yang sudah relatif tua. Kita tidak bisa mengatakan “itu kan hanya beberapa orang saja dari sekian juta orang”.

Orang yang paling dekat dengan saya yang membuat saya tetap terinspirasi untuk melakukan yang terbaik adalah kakak perempuan saya yang sudah berusia 51 tahun memulai perkuliahannya di Fakultas Hukum di salah satu perguruan tinggi di Medan. Ketika saya tanyakan apa motivasinya, jawabnya adalah “saya tidak mau hanya menyesali masa lalu saya”

Mohon maaf, tulisan ini saya buat untuk memotivasi saya  ( dan saya bagikan kepada teman-teman mana tahu dibutuhkan ) agar selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Teman-teman saya bilang “baru sadar ya ?, terlambat !”. Tak masalah apa yang akan aku dapatkan, yang penting aku tetap berusaha.  Bangkitlah Hai Semangatku !

Ronny Siagian
Advertisements

TALENTS

Mungkin Anda sering mendengar bahwa setiap manusia pasti memiliki bakat alami yang dibawa semenjak lahir, dan kalau dioptimalkan maka bakat tersebut akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Nah sekarang pertanyaannya adalah : Apakah Anda mengenali bakat-bakat yang Anda miliki ?

 Pertanyaan ini menjadi penting untuk direnungkan karena kebanyakan karyawan dan calon karyawan yang pernah saya interview tidak bisa menjawab dengan pasti mengenai bakat apa saja yang mereka miliki. Mungkin kondisi ini terjadi karena semenjak lahir mereka senantiasa didominasi oleh para orang tua yang cenderung menekankan keinginan mereka kepada anak-anaknya.

 Untunglah belakangan ini para orang tua di Indonesia sudah banyak yang menyadari bahwa kesuksesan seseorang sangat dipengaruhi oleh bakat alaminya, sehingga mereka mulai mencari kursus-kursus yang bisa mengoptimalkan bakat alami anak-anak mereka. Televisi Indonesia juga sudah banyak menyiarkan acara perlombaan ketrampilan bakat, seperti Akademi Fantasi Indonesia, Indonesian Idol, Star Dut, Idola Cilik, Multitalent Be A Star, Dai Cilik dan lain-lain. Dalam acara-acara tersebut kita sering mendengar komentar dari para dewan juri yang mengatakan “Optimalkan Bakat Anda”. 

 Kenali Bakat Alami Anda

 Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan bakat ? Bakat yang juga disebut sebagai talenta adalah pola pikir, perasaan, dan prilaku yang secara alami dapat terlihat pada diri seseorang. Kalau Anda bisa melakukan sesuatu maka Anda dikatakan punya kemampuan, namun bakat akan memperlihatkan sebaik dan sesering apa Anda melakukan sesuatu tersebut.

Menurut Howard Garner, yaitu seorang pendidik di Harvard University, Amerika, bakat dibagi dalam delapan kategori Multiple Intelligences, yaitu :

  1. Kecerdasan Berbahasa (Linguistic Intelligence).
  2. Kecerdasan Logika (Logical Intelligence).
  3. Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence).
  4. Kecerdasan Musik (Musical Intelligence).
  5. Kecerdasan Tubuh-Kinestetik (Bodily-Kinesthetic Intelligence).
  6. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence).
  7. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence).
  8. Kecerdasan Natural  (Natural Intelligence).

 Kondisi-kondisi berikut ini akan membantu Anda untuk mengenali bakat yang Anda miliki, yaitu :

  • Memiliki hasrat.

Ketika Anda melihat, mendengar atau menerima ajakan dari seseorang untuk mengerjakan suatu aktivitas, Anda merasa memiliki hasrat yang kuat untuk mengerjakannya. Anda juga begitu asyik pada saat mengerjakannya sehingga Anda masih berusaha mengulur-ulur waktu ketika saatnya untuk istirahat. Apabila Anda merasakan seperti itu, bisa jadi bahwa kegiatan tersebut adalah salah satu dari bakat alami Anda.

  • Kemampuan menguasai.

Apabila ada pekerjaan yang baru diperkenalkan pada Anda, sepertinya Anda tidak susah untuk mempelajarinya, bahkan Anda bisa melewati langkah-langkah yang belum diajarkan. Anda bisa menguasai pekerjaan tersebut dengan cepat dibandingkan dengan pekerjaan yang lain. Kelihatannya Anda berbakat dalam pekerjaan tersebut.

  • Merasa puas.

Ketika mengerjakan pekerjaan tersebut, Anda tidak saja hanya merasa senang tetapi juga merasa puas dengan hasil yang Anda peroleh.

  • Pendapat orang lain.

Menurut orang lain, Anda memiliki bakat dengan kegiatan yang sedang Anda kerjakan. Tentu saja orang lain tersebut adalah orang yang Anda percaya bahwa mereka memberikan penilaian yang jujur.

 Kondisi-kondisi diatas menuntut Anda untuk melakukan sesuatu aktivitas, dengan demikian Anda bisa mengetahui apakah Anda memiliki hasrat, terlihat lebih cepat menguasai, merasa puas dan mengetahui kesan orang lain pada saat Anda melakukannya. Jadi apabila Anda belum juga mengenali bakat alami Anda, kerjakanlah hal-hal yang baru yang selama ini belum pernah Anda kerjakan.

 Cari Peluang untuk Mengembangkan Bakat Anda

 Setelah Anda benar-benar mengerti bakat yang Anda miliki, cobalah menemukan peluang untuk mengembangkan atau mengoptimalkannya di tempat Anda bekerja saat ini. Peluang bukanlah hanya posisi atau jabatan yang kosong yang diumumkan di kolom iklan atau di papan pengumuman, tetapi juga sesuatu yang Anda lihat bahwa bakat dan keahlian Anda dibutuhkan disana. Mungkin pimpinan Anda tidak mengenal bakat yang Anda miliki sehingga dia tidak bisa menempatkan pekerjaan atau posisi yang tepat bagi Anda, tapi sesungguhnya Anda mengetahuinya. Oleh karena itu carilah atau ciptakanlah peluang agar Anda bisa menempati suatu posisi dimana Anda bisa mengembangkan bakat alami Anda disana.

 Mungkin Anda seorang karyawan yang saat ini bekerja di bagian produksi tapi Anda memiliki bakat di bidang lukis-melukis. Atau Anda bekerja di bagian engineering yang memiliki bakat menyanyi atau berbicara dalam banyak bahasa. Atau Anda karyawan yang bekerja sebagai tenaga penjual namun Anda memiliki bakat di bidang hitung-menghitung atau apa saja bakat Anda. Saya katakan sayang sekali kalau Anda membiarkan bakat tersebut hanya sekedar bakat tanpa ada usaha untuk mengembangkan dan mengoptimalkannya. Sediakanlah waktu Anda sejenak untuk melihat peluang untuk mengembangkan bakat Anda dimanapun Anda bekerja.

 Jadikan Bakat menjadi Kekuatan

 Segera setelah Anda mengenali bakat alami Anda dan telah menemukan peluang dimana Anda bisa mengembangkannya, maka selanjutnya adalah mengoptimalkannya supaya menjadi suatu  kekuatan bagi Anda. Anda membutuhkan pengetahuan tambahan dan latihan-latihan untuk menjadikan bakat yang Anda miliki menjadi suatu kekuatan ( strength ) Anda yang luar biasa untuk mencapai puncak karier Anda.

 Setelah Anda sudah memiliki kekuatan di bidang tertentu, bukan berarti sudah tidak ada lagi bakat tersembunyi lain didalam diri Anda yang menunggu untuk ditemukan. Memang Anda tidak bisa unggul dalam segala hal, tetapi Anda bisa mengoptimalkan bakat-bakat alami Anda.  

 Ronny Siagian

HAMBURGER DAN TEMPE

Pada suatu ketika, terjadi satu perbincangan yang kedengarannya tidak bersahabat antara Tempe dan Hamburger di salah satu Meja Makan keluarga. Si hamburger dengan sikap seperti mengejek si Tempe yang sedari tadi kelihatan pucat, “Eh tempe, ngapain lo disini, ini bukan tempat lo, sono lo ke warteg sono !”. Dengan sedikit malu si Tempe hendak beranjak dari meja, tapi buru-buru terdengar obrolan antara tuan rumah dan nyonya “ Ma kok beli Tempe cuman tiga potong aja ?” Si nyonya menjawab “Dapat tiga potong aja sudah syukur, sekarang susah cari Tempe”. Si Tempe mendengar pembicaraan tuan rumah dan nyonya tadi, dan mulai bernafsu untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut tentang dirinya, si Hamburger juga menunggu pembicaraan selanjutnya. “Satu potong Tempe bisa Rp. 5000, malah lebih mahal dari Hamburger”.

“Ha..ha.. siapa dulu dong Tempe” si Tempe terbahak-bahak mengejek si Hamburger. Si Hamburger mulai bingung dan hampir tidak percaya,  penasaran. Lantas si Meja Makan yang sok tahu tapi memang kelihatannya dia banyak tahu, memberi komentar “Emang Lo baru tahu kalau Tempe itu terbuat dari kacang kedele yang diimpor dari Amerika, ongkosnya aja sudah mahal?” “Iya saya tahu, saya juga terbuat dari terigu yang diimpor dari Australia, emang sih dari China juga ada, tapi masak sih Tempe lebih mahal?” ujar si Hamburger nggak bisa terima. Si Meja Makan menambahkan “Katanya produsen Tempe sudah mulai mogok kerja karena harga kedelai melambung, katanya produsen sangat bergantung pada importir kedelai”. “Tapi ngomong-ngomong, anda-anda tahu nggak kalau gua juga diimpor dari Malasya dengan harga yang mahal” kata si Meja dengan gaya pamer. “Tapi lo kan bahannya dari hutan Indonesia yang diolah diluar negeri dan kita impor kembali” kata si Sendok. “Yang penting harga gua mahal, dari pada lo, impor tapi harga murah” jawab si Meja nggak mau kalah. “Ya, emang kami kelompok besi murahan dari China tapi kami ada dimana-mana seperti peniti, jarum pentul, mainan anak-anak, pisau, sepeda, pokoknya segala bentuk besi”. Perbincangan terhenti sejenak ketika mereka mendengar  ada teriakan yang kemudian menghilang. “Biasa, teman kita si Beras dari Thailand sedang ditelam tuan rumah, ntar juga giliran teman kita si Apple dari Washington” kata si Meja Makan dengan santai.

Sementara si Hamburger dan si Tempe masih terus berdebat untuk menentukan siapa diantara mereka yang paling bergengsi, mari kita renungkan, apa potensi dalam diri kita yang bisa kita kembangkan dan berikan untuk kemajuan bangsa ini.

Ronny Siagian

ALWAYS MOTIVATED – DO IT NOW !

Mungkin Anda sering mendengarkan motivasi-motivasi yang disampaikan oleh para motivator baik melalui TV, Radio, Seminar ataupun pertemuan-pertemuan lain yang mampu menggerakkan emosi Anda. Namun tidak lama kemudian motivasi tersebut seolah-olah hilang ditelan oleh waktu ataupun aktivitas rutin Anda, sehingga tidak membuahkan apa-apa. Kenapa demikian ?. Berikut ini saya sampaikan beberapa Tips yang bisa menjaga agar Anda tetap termotivasi dan dengan nyata mendapatkan hasil sesuai yang Anda harapkan, yaitu :

 Kalau sudah tahu apa yang Anda butuhkan, wah itu sudah hebat, karena banyak juga orang yang tidak tahu persis apa yang diinginkannya. Mulailah menuliskan apa yang Anda harapkan sebagai nilai kesuksesan Anda. Aturlah supaya tulisan tersebut senantiasa mengingatkan Anda dan milikilah keberanian untuk mempublikasikannya kepada orang terdekat Anda. Dengan demikian Anda akan bertanggung jawab untuk memenuhinya. Akan tetapi bilamana Anda belum tahu persis apa yang Anda inginkan, lakukanlah sesuatu yang BAIK yang dapat mengembangkan kemampuan Anda.

 Anda bisa saja sudah banyak mendengarkan dan membaca berbagai motivasi dari para motivator, namun apabila motivasi tersebut hanya sepanjang pengetahuan saja tanpa ada tindakan yang nyata maka  semuanya tidak ada manfaatnya bagi Anda. Jadi bertindaklah sesuai dengan motivasi yang sudah Anda miliki. Do It Now !

 Ronny Siagian

THE LOST MOTIVATION

Pada suatu sore ketika saya mengantarkan anak saya les Bahasa Inggris di salah satu perumahan di Harapan Indah Bekasi. Waktu itu, di depan gedung les tersebut masih ada banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan oleh pihak developer. Sambil menunggu lahan tersebut didrikan bangunan, banyak warga yang saya tidak tahu berasal darimana, mendirikan gubuk-gubuk disana sebagai tempat tinggal mereka. Mereka juga memanfaatkan tanah kosong lainnya untuk ditanami sayuran seperti sawi, bayam, kangkung bahkan jagung. Kelihatannya tanaman mereka cukup subur dan terlihat segar sehingga banyak warga Harapan Indah yang datang membeli sayuran langsung kesana.

Saya bukan mau membahas mengenai lahan kosong ataupun sayuran, tapi ada pemandangan yang menarik yang saya perhatikan. Ternyata mereka yang memanfaatkan lahan tersebut membawa serta juga anak-anak mereka tinggal di gubuk tersebut. Sambil menunggu waktu untuk memulai les, ada beberapa anak yang hobby main bolanya tinggi, menyempatkan diri untuk bermain-main bersama anak petani nomaden tersebut. Kemudian anak-anak yang mau les diingatkan temannya untuk segera masuk ke ruangan les, tinggallah dua tiga orang anak petani nomaden yang bermain bola disana. Sekarang keriuhan mereka tidak lagi seperti ketika ada beberapa anak les yang bergabung.

Sementara itu, ada seorang ibu sedang duduk termenung didepan pintu gubuknya, kelihatannya ada sesuatu yang dia khayalkan.  Saya mencoba menarik garis dari sorotan matanya ke arah mana dia memandang. Saya menentukan bahwa titik pandangan kosongnya adalah kepada dua tiga orang anak yang bermain bola tadi. Saya tertarik melihat gerakan selanjutnya dari ibu itu sehingga saya terus memperhatikannya. Kemudian tokoh dalam pemandangan saya bertambah ketika seorang anak yang bermain bola tadi menghampiri ibu itu. Kelihatannya ada pengaduan dari si anak dan si ibu juga terlihat penuh kasih menanggapinya.

Saya pikir si anak mengadu kepada ibunya bahwa dia kehilangan teman bermain bola, karena anak-anak lain sudah pada pergi termasuk anak yang masuk les tadi. Si ibu bilang, “ya sudah nak besok-besok mereka kan kesini lagi, besok kamu bisa main lagi kan”. Si anak merengek-rengek, “aku mau main sama mereka sekarang”. “Kan mereka sedang belajar didalam, kita tunggu mereka keluar dulu ya”,  kata si ibu menenangkan anaknya. “Ma, boleh nggak aku ikut belajar didalam ?” pinta si anak memelas.

Pada saat itu hati si ibu terenyuh, karena permintaan anaknya tidak bisa dipenuhinya. Dia adalah istri seorang petani nomaden, yang tidak bisa menyekolahkan anaknya. Sebelumnya dia berpikir bahwa dia tidak mungkin menyekolahkan anaknya, apa boleh buat, anak jadi petani nomaden aja.  Tapi sekarang dia berubah pikiran, dia tidak tega melihat anaknya seperti itu.

Kalau sebelumnya si ibu hanya mengandalkan suaminya yang bekerja sebagai petani nomaden, dan dia hanya menunggu di gubuk yang disi dengan saling cari kutu dengan ibu lainnya, tapi sekarang dia berubah pikiran, mind setnya dirubah. “Saya harus berbuat sesuatu, saya harus berubah” demikian tekad si Ibu tersebut.

Malam itu juga dia minta ijin kepada suaminya supaya besok ikut temannya menjadi tukang kebun di taman Harapan Indah, karena sebelumnya dia pernah ditawari oleh temannya tapi suaminya tidak begitu mendukung. “Kalau tidak diijinkan saya akan mencari kerjaan sebagai tukang cuci kalau juga tidak diijinkan saya akan belajar membuat kue-kuean untuk dijual di pinggir jalan”. Tetapi dengan mendengar keinginan si Ibu untuk menyekolahkan anaknya, si suami pun mengijinkannya menjadi tukan kebun taman di Harapan Indah.

Pendek cerita, kemudian dia mampu menyekolahkan anaknya bahkan mereka bisa mengontrak warung di pinggir jalan. Dia juga bekerja sebagai tukang kebun dan kadang-kadang dapat uang tambahan dengan membersihkan pekarangan rumah gedongan di sekitar taman. Di sore hari dia juga bekerja sebagai tukang cuci di beberapa keluarga dan kemudian di malam hari dia menyiapkan bahan-bahan untuk warung yang tunggui oleh keponakannya. Setiap pagi dia sudah menyiapkan anaknya untuk berangkat sekolah, memakaikan dasi sekolah anaknya, menempatkan rangsel warna kuning di pundah anaknya dan memberi ciuman seperti layaknya anak-anak gedongan yang ikut les tadi, sambil berpesan “belajar yang baik ya nak, biar nanti jadi orang gedongan”. Si bocah tadi juga dengan riangnya ikut bermain bola bersama teman-temanya sebelum sama-sama masuk kedalam gedung tempat dia mengikuti les Bahasa Inggris.

Tiba-tiba suara guyuran hujan dan tiupan angin kencang menghantam mobil saya dan membuat saya terbangun dari lamunan yang kelihatannya cukup lama. Aku mencoba mencari anak tadi, tapi tidak saya temukan lagi dalam pandanganku, mungkin dia sudah masuk kedalam gubuk kecil itu bersama ibunya. Saya pulang ke rumah dan tergerak untuk menceritakan lamunan saya kepada si ibu tersebut. “Saya akan cari kesempatan” pikirku. Selang beberapa hari kemudian, sepulang dari kantor, saya tidak melihat lagi gubuk-gubuk tempat tinggal para petani nomaden tersebut, justru yang saya lihat adalah keramaian orang menyaksikan beberapa unit buldozer dan truk pengangkut tanah yang bersiliweran disana. Saya menyesal telah menghilangkan kesempatan petani nomaden tersebut mendapatkan hidup yang lebih baik. Bu dan adek kecilku semoga kalian mendapat motivasi dari orang lain.

Ronny Siagian

GRUMBLE and GRUNDEL

MENGELUH TERUS

Entah berapa lobang yang selalu saya lewati setiap hari di sepanjang perjalanan saya pergi-pulang kerja. Ada juga pembatas busway dan banyaknya portal perumahan yang menghalangi perjalanan saya. Selain itu masih ada lagi kekurangan-kekurangan  yang saya temui di sepanjang jalan, seperti pedagang kaki lima yang mengambil tempat hampir separuh jalan, para peminta-minta di setiap lampu merah, ulah para sopir angkot yang menyebalkan dan masih banyak lagi.

Setiap hari saya terpancing untuk mengeluarkan komentar kekecewaan, mencak-mencak dan mengeleng-geleng kepala, sampai-sampai teman saya bilang “ Jangan terlalu dipikirin, nanti bisa sakit Pak “. Saya pikir dia benar, karena saya menjadi kesal, mungkin ini yang dikatakan orang “ tua di jalanan “. Saya kemudian membayangkan kalau sikap saya direkam di video, pasti saya akan disebut sebagai orang yang bersikap negatip atau mungkin pecundang, wah gawat !

Kebiasaan mengeluh atau grundel bisa menurunkan kredibilitas kita dan kelihatannya memang tidak profesional. Kalau keluhan kita ditanggapi mah mending, masalahnya jarang sekali orang yang mau bersabar mendengarkan orang yang mengeluh melulu. 

NIKMATI SAJA

Akhirnya saya mulai menikmati perjalanan saya. Saya mengambil pelajaran positip dari setiap kejadian yang saya temui di jalan. Saya mulai berpikir dan ingin tahu kenapa jalan raya cepat rusak. Saya belajar cara berbisnis para pedagang kaki lima, gaya hidup para peminta-minta dan terkadang saya bercanda dengan mereka. Saya juga mulai belajar tersenyum akrab menegor supir angkot yang ugal-ugalan. Kelihatannya saya menjadi malu kalau mau bersungut-sungut tanpa ada sesuatu yang bisa saya kerjakan.

Para peneliti sudah membuktikan bahwa tindakan sederhana yang disebut SMILE menyebabkan otak kita melepaskan aliran kimiawi yang disebut endorphins yang membuat kita lebih nyaman. Tapi tanpa para pakar kesehatanpun kita sudah bisa lihat bahwa orang yang banyak tersenyum kelihatannya lebih cantik atau lebih menarik.

JANGAN SALAH ALAMAT

Lantas bagaimana dengan kekurangan-kekurangan tadi, apakah dengan sendirinya terselesaikan ? Tentu tidak ! Saya harus belajar mengalamatkan informasi atau ide saya ke alamat yang benar, apakah kepada Polisi, Lurah, Menteri, DPR  atau YLKI ? Rasanya saat ini saya belum tahu pasti, mungkin juga karena saya tidak berani, atau karena saya tidak mau repot. Untunglah selalu ada orang yang perduli dan memiliki solusi yang bijaksana terhadap kekurangan-kekurangan tersebut , dan maafkan  saya yang hanya menikmati hasil perjuangan Anda sekalian. Saya akan mencoba mengerjakan apa yang bisa saya lakukan, barulah bicarakan pada orang yang bisa diajak bicara, tetapi ingat jangan bernada mengeluh apalagi sambil melebih-lebihkan masalah. Bicarakan secara profesional dan netral. Yang lebih penting lagi jangan menyalahkan suatu kondisi yang membuat Anda tidak puas dan jangan menyudutkan satu atau sekelompok orang yang Anda anggap bersalah.

Ronny Siagian

IT’S ME

Ya inilah saya. Menurut Anda, kalimat seperti ini biasanya diucapkan oleh siapa ? Apakah dari orang yang rendah hati ? orang yang mengalah ? atau malah dari orang yang tidak mau kalah ? orang yang punya prinsip ? atau pecundang ? pendendam. Kelihatannya menjadi misteri bagi kita yang tidak mengenal siapa yang mengucapkannya. Kalau yang mengucapkan kalimat itu adalah saudara, suami atau istri Anda, mungkin Anda akan cepat mengidentifikasi karakternya. Bagaimana kalau dia adalah anak buah Anda di kantor ? apakah Anda berharap banyak dari dia ? Kalau kalimat ini diucapkan oleh anak buah Anda, kelihatannya Anda akan kesal dengan dia. Nah sekarang bagaimana kalau ucapan itu adalah ucapan dari Anda sendiri ? karakter apa yang akan Anda cocokkan dengan diri Anda sendiri ?

EXCUSE ME

Ada orang yang selalu menyalahkan dirinya sendiri sampai dia tersiksa bahkan bisa menjadi gila oleh karenanya. Jadi kalau orang tersebut memaafkan dirinnya sendiri, maka hal itu adalah sangat baik karena dengan demikian kejiwaannya menjadi lebih baik. Tapi yang saya maksudkan adalah kebiasaan untuk memaafkan diri untuk kegagalan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Seseorang yang memaafkan dirinya karena tidak mendapatkan pekerjaan dan berkata “memang sekarang lagi susah cari kerja, jadi wajarlah kalau saya belum mendapatkannya” padahal dia tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari pekerjaan. Itu namanya bukan memaafkan diri untuk kebaikan tapi memaaflkan diri yang mematikan. Sampai kapan dia akan bertahan demikian, emang makan darimana kalau tidak mendapatkan penghasilan.

Mungkin secara tidak kita sadari bahwa kita sering menenangkan diri dengan memaafkan diri kita atas kesalahan-kesalahan, kegagalan-kegalan atau ketidakmampuan kita sendiri. Tapi hal itu sering sekali karena kekurangaan atau kelemahan kita, bukan karena situasi yang membuat kita tidak bisa melakukannya. Sebenarnya ada satu cara yang paling ampuh didalam mencegah supaya kita tidak selalu memberikan berbagai macam alasan dan selalu memaafkan diri kita karena kegagalan kita, yaitu : selalu berusaha, meskipun dari hal-hal kecil.

UNGKAPAN KITA MENJADI PENAGIH KITA

Banyak orang yang bilang bahwa “apa saja yang bisa kita pikirkan pasti bisa kita kerjakan”. Banyak orang yang tidak terlalu setuju dengan ungkapan tersebut. Kenapa ? karena mereka tidak mau dikatakan orang yang banyak ngomong, apalagi kalau mereka gagal dalam hal tersebut.

Ketika kita berani berkata “saya bisa”, maka ungkapan tersebut akan menjadi saksi atas komitmen kita sendiri dan membuat kita seperti dikejar-kejar oleh janji kita sendiri. Kalau kita tidak berhasil maka kita menjadi malu, sehingga kita selalu ingin mewujudkan pernyataan kita tersebut. Minimal kita selalu berusaha untuk mencapainya. Paling tidak ada usaha untuk menuju ke sana. Oleh karena beranikanlah untuk memproklamirkan suatu ungkapan “saya bisa” dalam sesuatu yang baik yang kita cita-citakan.

Ronny Siagian