THE ART OF LISTENING

ListeningKemampuan berkomunikasi sering kali hanya diidentikkan dengan kemampuan seseorang dalam menyampaikan pesan, padahal dalam berkomunikasi terutama dalam komunikasi verbal, kemampuan mendengar mutlak diperlukan. Permasalahannya adalah bahwa sering sekali seorang pimpinan sangat mendominasi pembicaraan ketika berbicara dengan anak buahnya, sepertinya anak buah tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Orang seperti ini biasanya sering mengeluh karena kinerja anak buahnya yang tidak memuaskan.

 Memang kalau dilihat sepintas lalu, mendengar bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan, tetapi pada praktiknya kita lebih senang berbicara atau berkomentar daripada mendengarkan. Mendengarkan dengan baik merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh mereka yang ingin berhasil di bidang kehidupan yang sedang dijalaninya, apakah sebagai seorang pemimpin, pelajar, pengajar, pebisnis, pedagang atau pejabat pemerintah. Jika kita memiliki keahlian untuk mendengarkan, maka kita akan menjadi orang bijak yang tahu mengambil keputusan-keputusan yang tepat di dalam hidup ini. “Baiklah orang yang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.” ( Amsal Sulaiman )

 MENDENGAR DENGAN TUBUH

 Pendengar yang baik menunjukkan keseriusannya dengan bahasa tubuh atau “body language” yang baik. Kebanyakan orang tidak sadar bahwa tubuh bisa berbicara dengan bahasanya sendiri. Bahasa tubuh merupakan bagian dari percakapan yang memberikan dampak yang sangat berarti. Jari, tangan, kaki serta gerak tubuh kita bisa menceritakan perasaan kita yang sesungguhnya, apakah kita sedang menyimak atau tidak. Posisi tubuh yang berdiri tegak, santai, duduk atau gelisah akan membuat perbedaan dalam sebuah komunikasi. Jika kita bosan maka itu akan tampak pada gerak-gerik kita yang ogah-ogahan.

 Apabila dalam sebuah perbincangan seseorang menutup mata atau menyentuh wajahnya, itu berarti tubuhnya sedang berusaha menyampaikan informasi, “Aku benar-benar tidak ingin mendengarkan ini.” Kalau seseorang mengangkat bahu itu berarti dia sedang menyampaikan informasi bahwa dia tidak tahu, tidak serius atau bahkan acuh terhadap topik yang disampaikan kepadanya. Demikian menurut psykolog David J. Lieberman Ph.D.

 MENDENGAR DENGAN MATA

 Mata merupakan cermin nyata yang menunjukkan apakah hati kita tertarik dan menyimak atau sebaliknya. Tatapan yang fokus dan hangat menunjukkan bahwa kita menyimak apa yang dikatakan oleh lawan bicara kita, sedangkan mata yang suka melirik ke berbagai tempat menunjukkan bahwa kita tidak menyimak. “Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang.” ( Amsal Sulaiman )

 MENDENGAR DENGAN PIKIRAN YANG TERBUKA

 Beberapa orang membiarkan dirinya melamun ketika mereka mendengar sebuah presentasi atau ketika seseorang berbicara kepadanya. Tindakan melamun lebih buruk daripada mengalihkan pembicaraan dan ini menunjukkan bahwa kita tidak mendengarkan dengan pikiran yang terbuka. Belajarlah untuk mendengarkan dengan pikiran yang terbuka. Jika pikiran kita terlibat mendengarkan apa yang dikatakan oleh lawan bicara, maka kita akan menangkap hal-hal yang berguna dan juga bisa memberikan tanggapan-tanggapan yang tepat.  Orang-orang yang sudah terbiasa mendengarkan dengan baik  biasanya akan mencatat hal-hal penting yang didapatnya ketika mendengarkan.

 Mari belajar mendengar.

Ronny Siagian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s