ALWAYS MOTIVATED – DO IT NOW !

Mungkin Anda sering mendengarkan motivasi-motivasi yang disampaikan oleh para motivator baik melalui TV, Radio, Seminar ataupun pertemuan-pertemuan lain yang mampu menggerakkan emosi Anda. Namun tidak lama kemudian motivasi tersebut seolah-olah hilang ditelan oleh waktu ataupun aktivitas rutin Anda, sehingga tidak membuahkan apa-apa. Kenapa demikian ?. Berikut ini saya sampaikan beberapa Tips yang bisa menjaga agar Anda tetap termotivasi dan dengan nyata mendapatkan hasil sesuai yang Anda harapkan, yaitu :

 Kalau sudah tahu apa yang Anda butuhkan, wah itu sudah hebat, karena banyak juga orang yang tidak tahu persis apa yang diinginkannya. Mulailah menuliskan apa yang Anda harapkan sebagai nilai kesuksesan Anda. Aturlah supaya tulisan tersebut senantiasa mengingatkan Anda dan milikilah keberanian untuk mempublikasikannya kepada orang terdekat Anda. Dengan demikian Anda akan bertanggung jawab untuk memenuhinya. Akan tetapi bilamana Anda belum tahu persis apa yang Anda inginkan, lakukanlah sesuatu yang BAIK yang dapat mengembangkan kemampuan Anda.

 Anda bisa saja sudah banyak mendengarkan dan membaca berbagai motivasi dari para motivator, namun apabila motivasi tersebut hanya sepanjang pengetahuan saja tanpa ada tindakan yang nyata maka  semuanya tidak ada manfaatnya bagi Anda. Jadi bertindaklah sesuai dengan motivasi yang sudah Anda miliki. Do It Now !

 Ronny Siagian

THE LOST MOTIVATION

Pada suatu sore ketika saya mengantarkan anak saya les Bahasa Inggris di salah satu perumahan di Harapan Indah Bekasi. Waktu itu, di depan gedung les tersebut masih ada banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan oleh pihak developer. Sambil menunggu lahan tersebut didrikan bangunan, banyak warga yang saya tidak tahu berasal darimana, mendirikan gubuk-gubuk disana sebagai tempat tinggal mereka. Mereka juga memanfaatkan tanah kosong lainnya untuk ditanami sayuran seperti sawi, bayam, kangkung bahkan jagung. Kelihatannya tanaman mereka cukup subur dan terlihat segar sehingga banyak warga Harapan Indah yang datang membeli sayuran langsung kesana.

Saya bukan mau membahas mengenai lahan kosong ataupun sayuran, tapi ada pemandangan yang menarik yang saya perhatikan. Ternyata mereka yang memanfaatkan lahan tersebut membawa serta juga anak-anak mereka tinggal di gubuk tersebut. Sambil menunggu waktu untuk memulai les, ada beberapa anak yang hobby main bolanya tinggi, menyempatkan diri untuk bermain-main bersama anak petani nomaden tersebut. Kemudian anak-anak yang mau les diingatkan temannya untuk segera masuk ke ruangan les, tinggallah dua tiga orang anak petani nomaden yang bermain bola disana. Sekarang keriuhan mereka tidak lagi seperti ketika ada beberapa anak les yang bergabung.

Sementara itu, ada seorang ibu sedang duduk termenung didepan pintu gubuknya, kelihatannya ada sesuatu yang dia khayalkan.  Saya mencoba menarik garis dari sorotan matanya ke arah mana dia memandang. Saya menentukan bahwa titik pandangan kosongnya adalah kepada dua tiga orang anak yang bermain bola tadi. Saya tertarik melihat gerakan selanjutnya dari ibu itu sehingga saya terus memperhatikannya. Kemudian tokoh dalam pemandangan saya bertambah ketika seorang anak yang bermain bola tadi menghampiri ibu itu. Kelihatannya ada pengaduan dari si anak dan si ibu juga terlihat penuh kasih menanggapinya.

Saya pikir si anak mengadu kepada ibunya bahwa dia kehilangan teman bermain bola, karena anak-anak lain sudah pada pergi termasuk anak yang masuk les tadi. Si ibu bilang, “ya sudah nak besok-besok mereka kan kesini lagi, besok kamu bisa main lagi kan”. Si anak merengek-rengek, “aku mau main sama mereka sekarang”. “Kan mereka sedang belajar didalam, kita tunggu mereka keluar dulu ya”,  kata si ibu menenangkan anaknya. “Ma, boleh nggak aku ikut belajar didalam ?” pinta si anak memelas.

Pada saat itu hati si ibu terenyuh, karena permintaan anaknya tidak bisa dipenuhinya. Dia adalah istri seorang petani nomaden, yang tidak bisa menyekolahkan anaknya. Sebelumnya dia berpikir bahwa dia tidak mungkin menyekolahkan anaknya, apa boleh buat, anak jadi petani nomaden aja.  Tapi sekarang dia berubah pikiran, dia tidak tega melihat anaknya seperti itu.

Kalau sebelumnya si ibu hanya mengandalkan suaminya yang bekerja sebagai petani nomaden, dan dia hanya menunggu di gubuk yang disi dengan saling cari kutu dengan ibu lainnya, tapi sekarang dia berubah pikiran, mind setnya dirubah. “Saya harus berbuat sesuatu, saya harus berubah” demikian tekad si Ibu tersebut.

Malam itu juga dia minta ijin kepada suaminya supaya besok ikut temannya menjadi tukang kebun di taman Harapan Indah, karena sebelumnya dia pernah ditawari oleh temannya tapi suaminya tidak begitu mendukung. “Kalau tidak diijinkan saya akan mencari kerjaan sebagai tukang cuci kalau juga tidak diijinkan saya akan belajar membuat kue-kuean untuk dijual di pinggir jalan”. Tetapi dengan mendengar keinginan si Ibu untuk menyekolahkan anaknya, si suami pun mengijinkannya menjadi tukan kebun taman di Harapan Indah.

Pendek cerita, kemudian dia mampu menyekolahkan anaknya bahkan mereka bisa mengontrak warung di pinggir jalan. Dia juga bekerja sebagai tukang kebun dan kadang-kadang dapat uang tambahan dengan membersihkan pekarangan rumah gedongan di sekitar taman. Di sore hari dia juga bekerja sebagai tukang cuci di beberapa keluarga dan kemudian di malam hari dia menyiapkan bahan-bahan untuk warung yang tunggui oleh keponakannya. Setiap pagi dia sudah menyiapkan anaknya untuk berangkat sekolah, memakaikan dasi sekolah anaknya, menempatkan rangsel warna kuning di pundah anaknya dan memberi ciuman seperti layaknya anak-anak gedongan yang ikut les tadi, sambil berpesan “belajar yang baik ya nak, biar nanti jadi orang gedongan”. Si bocah tadi juga dengan riangnya ikut bermain bola bersama teman-temanya sebelum sama-sama masuk kedalam gedung tempat dia mengikuti les Bahasa Inggris.

Tiba-tiba suara guyuran hujan dan tiupan angin kencang menghantam mobil saya dan membuat saya terbangun dari lamunan yang kelihatannya cukup lama. Aku mencoba mencari anak tadi, tapi tidak saya temukan lagi dalam pandanganku, mungkin dia sudah masuk kedalam gubuk kecil itu bersama ibunya. Saya pulang ke rumah dan tergerak untuk menceritakan lamunan saya kepada si ibu tersebut. “Saya akan cari kesempatan” pikirku. Selang beberapa hari kemudian, sepulang dari kantor, saya tidak melihat lagi gubuk-gubuk tempat tinggal para petani nomaden tersebut, justru yang saya lihat adalah keramaian orang menyaksikan beberapa unit buldozer dan truk pengangkut tanah yang bersiliweran disana. Saya menyesal telah menghilangkan kesempatan petani nomaden tersebut mendapatkan hidup yang lebih baik. Bu dan adek kecilku semoga kalian mendapat motivasi dari orang lain.

Ronny Siagian

GRUMBLE and GRUNDEL

MENGELUH TERUS

Entah berapa lobang yang selalu saya lewati setiap hari di sepanjang perjalanan saya pergi-pulang kerja. Ada juga pembatas busway dan banyaknya portal perumahan yang menghalangi perjalanan saya. Selain itu masih ada lagi kekurangan-kekurangan  yang saya temui di sepanjang jalan, seperti pedagang kaki lima yang mengambil tempat hampir separuh jalan, para peminta-minta di setiap lampu merah, ulah para sopir angkot yang menyebalkan dan masih banyak lagi.

Setiap hari saya terpancing untuk mengeluarkan komentar kekecewaan, mencak-mencak dan mengeleng-geleng kepala, sampai-sampai teman saya bilang “ Jangan terlalu dipikirin, nanti bisa sakit Pak “. Saya pikir dia benar, karena saya menjadi kesal, mungkin ini yang dikatakan orang “ tua di jalanan “. Saya kemudian membayangkan kalau sikap saya direkam di video, pasti saya akan disebut sebagai orang yang bersikap negatip atau mungkin pecundang, wah gawat !

Kebiasaan mengeluh atau grundel bisa menurunkan kredibilitas kita dan kelihatannya memang tidak profesional. Kalau keluhan kita ditanggapi mah mending, masalahnya jarang sekali orang yang mau bersabar mendengarkan orang yang mengeluh melulu. 

NIKMATI SAJA

Akhirnya saya mulai menikmati perjalanan saya. Saya mengambil pelajaran positip dari setiap kejadian yang saya temui di jalan. Saya mulai berpikir dan ingin tahu kenapa jalan raya cepat rusak. Saya belajar cara berbisnis para pedagang kaki lima, gaya hidup para peminta-minta dan terkadang saya bercanda dengan mereka. Saya juga mulai belajar tersenyum akrab menegor supir angkot yang ugal-ugalan. Kelihatannya saya menjadi malu kalau mau bersungut-sungut tanpa ada sesuatu yang bisa saya kerjakan.

Para peneliti sudah membuktikan bahwa tindakan sederhana yang disebut SMILE menyebabkan otak kita melepaskan aliran kimiawi yang disebut endorphins yang membuat kita lebih nyaman. Tapi tanpa para pakar kesehatanpun kita sudah bisa lihat bahwa orang yang banyak tersenyum kelihatannya lebih cantik atau lebih menarik.

JANGAN SALAH ALAMAT

Lantas bagaimana dengan kekurangan-kekurangan tadi, apakah dengan sendirinya terselesaikan ? Tentu tidak ! Saya harus belajar mengalamatkan informasi atau ide saya ke alamat yang benar, apakah kepada Polisi, Lurah, Menteri, DPR  atau YLKI ? Rasanya saat ini saya belum tahu pasti, mungkin juga karena saya tidak berani, atau karena saya tidak mau repot. Untunglah selalu ada orang yang perduli dan memiliki solusi yang bijaksana terhadap kekurangan-kekurangan tersebut , dan maafkan  saya yang hanya menikmati hasil perjuangan Anda sekalian. Saya akan mencoba mengerjakan apa yang bisa saya lakukan, barulah bicarakan pada orang yang bisa diajak bicara, tetapi ingat jangan bernada mengeluh apalagi sambil melebih-lebihkan masalah. Bicarakan secara profesional dan netral. Yang lebih penting lagi jangan menyalahkan suatu kondisi yang membuat Anda tidak puas dan jangan menyudutkan satu atau sekelompok orang yang Anda anggap bersalah.

Ronny Siagian

IT’S ME

Ya inilah saya. Menurut Anda, kalimat seperti ini biasanya diucapkan oleh siapa ? Apakah dari orang yang rendah hati ? orang yang mengalah ? atau malah dari orang yang tidak mau kalah ? orang yang punya prinsip ? atau pecundang ? pendendam. Kelihatannya menjadi misteri bagi kita yang tidak mengenal siapa yang mengucapkannya. Kalau yang mengucapkan kalimat itu adalah saudara, suami atau istri Anda, mungkin Anda akan cepat mengidentifikasi karakternya. Bagaimana kalau dia adalah anak buah Anda di kantor ? apakah Anda berharap banyak dari dia ? Kalau kalimat ini diucapkan oleh anak buah Anda, kelihatannya Anda akan kesal dengan dia. Nah sekarang bagaimana kalau ucapan itu adalah ucapan dari Anda sendiri ? karakter apa yang akan Anda cocokkan dengan diri Anda sendiri ?

EXCUSE ME

Ada orang yang selalu menyalahkan dirinya sendiri sampai dia tersiksa bahkan bisa menjadi gila oleh karenanya. Jadi kalau orang tersebut memaafkan dirinnya sendiri, maka hal itu adalah sangat baik karena dengan demikian kejiwaannya menjadi lebih baik. Tapi yang saya maksudkan adalah kebiasaan untuk memaafkan diri untuk kegagalan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Seseorang yang memaafkan dirinya karena tidak mendapatkan pekerjaan dan berkata “memang sekarang lagi susah cari kerja, jadi wajarlah kalau saya belum mendapatkannya” padahal dia tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari pekerjaan. Itu namanya bukan memaafkan diri untuk kebaikan tapi memaaflkan diri yang mematikan. Sampai kapan dia akan bertahan demikian, emang makan darimana kalau tidak mendapatkan penghasilan.

Mungkin secara tidak kita sadari bahwa kita sering menenangkan diri dengan memaafkan diri kita atas kesalahan-kesalahan, kegagalan-kegalan atau ketidakmampuan kita sendiri. Tapi hal itu sering sekali karena kekurangaan atau kelemahan kita, bukan karena situasi yang membuat kita tidak bisa melakukannya. Sebenarnya ada satu cara yang paling ampuh didalam mencegah supaya kita tidak selalu memberikan berbagai macam alasan dan selalu memaafkan diri kita karena kegagalan kita, yaitu : selalu berusaha, meskipun dari hal-hal kecil.

UNGKAPAN KITA MENJADI PENAGIH KITA

Banyak orang yang bilang bahwa “apa saja yang bisa kita pikirkan pasti bisa kita kerjakan”. Banyak orang yang tidak terlalu setuju dengan ungkapan tersebut. Kenapa ? karena mereka tidak mau dikatakan orang yang banyak ngomong, apalagi kalau mereka gagal dalam hal tersebut.

Ketika kita berani berkata “saya bisa”, maka ungkapan tersebut akan menjadi saksi atas komitmen kita sendiri dan membuat kita seperti dikejar-kejar oleh janji kita sendiri. Kalau kita tidak berhasil maka kita menjadi malu, sehingga kita selalu ingin mewujudkan pernyataan kita tersebut. Minimal kita selalu berusaha untuk mencapainya. Paling tidak ada usaha untuk menuju ke sana. Oleh karena beranikanlah untuk memproklamirkan suatu ungkapan “saya bisa” dalam sesuatu yang baik yang kita cita-citakan.

Ronny Siagian

PERUBAHAN KECIL

Setelah 15 tahun berpisah, suatu ketika di pameran Franchise di Jakarta Convention Hall saya ketemu dengan seorang teman kuliah, dan kemudian dia berkomentar, “Ron, kamu kok kayaknya nggak berubah-berubah dari dulu”. Saya senang kalau yang dimaksud adalah fisik saya, karena itu berarti saya awet muda. Tapi sepanjang perjalanan pulang, saya masih tetap menganggap komentar teman saya

mengingat-ingat komentar teman saya tadi, karena 15 tahun yang lalu saya dan dia tinggal bersama dalam satu kamar kost merasa bahwa saya memang tidak terlalu banyak berubah baik didalam masih mikir-mikir komentar teman saya tadi. yang mengatakan “Ron, kamu kok kayaknya nggak berubah-berubah” terus teringiang-ngiang entah didalam hati atau didalam pikiran. Meskipun saya selalu katakan entah didalam hati atau didalam pikiran bahwa maksudnya adalah saya awet muda, tapi terus-terang saya jadi termotivasi untuk berubah bukan menjadi seperti dia yang sudah menjadi pengusaha sukses akan tetapi menjadi diri sendiri yang sukses.

Saya mulai memunculkan kembali impian saya yang sudah lama terpendam didalam tumpukan waktu dan kesibukan. Memang impian bisa menggerakkan hati kita agar melakukan perubahan namun sering sekali kita ingin segera menggapai impian kita, tapi kita tidak melakukan apa-apa, masih saja tetap berada dalam impian. Kalau begitu halnya kita tidak akan bisa mencapai impian tersebut. Oleh karena itu kita harus bertindak atau melakukan sesuatu, meskipun hal itu adalah hal-hal kecil. Tentu saja kita harus terlebih dahulu memiliki gambaran besar ( blue print ) dari impian kita, dengan demikian kita bisa melihat apakah hal sepele yang kita lakukan membuat kita berubah dan mengarah kepada impian kita.

Rencanakan dan lakukanlah perubahan kecil dalam kehidupan Anda sehari-hari. Apa saja hal-hal kecil yang baik lakukanlah segera. Anda mungkin tidak terbiasa tersenyum ketika berpapasan dengan orang, mulailah tersenyum dengan istri atau suami atau tetangga Anda. Mungkin mereka yang sudah mengenal Anda bukan tipe orang yang ramah sehingga mereka heran dan penuh curiga dengan perubahan Anda. Tidak apa-apa karena Anda akan merasakan manfaat dari keceriaan Anda sendiri. Suatu saat Anda akan terbiasa tersenyum dan ramah sehingga setiap orang akan nyaman disamping Anda.  

Orang yang tidak bisa mengubah cara berpikirnya tidak bisa mengubah apa-apa

Orang baru mau mulai berubah jika ia sudah merasakan panasnya, bukan karena melihat cahayanya

Kebodohan tidak akan berubah menjadi kebenaran dengan adanya seribu orang yang mengatakan bahwa kebodohan itu benar

Mengubah alamat Anda tidak akan mengubah masalah Anda

Jika Anda mau berprestasi dan menjadi bintang, sering kali Anda harus berjalan melawan arus

Ada seorang teman yang menjadi bingung harus memulai perubahan dari mana, ibarat seseorang yang ingin membersihkan rumah yang sudah lama tidak ditempati sehingga kotoran ada dimana-mana, tidak tahu memulai dari mana.

Mulailah berubah dari hal-hal kecil.

Ronny Siagian